Pertamina Boyong Minyak Aljazair Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 02 Februari 2026 | 10:18:51 WIB
Pertamina Boyong Minyak Aljazair Perkuat Ketahanan Energi Nasional

JAKARTA - Upaya memperkuat ketahanan energi nasional tidak hanya bergantung pada produksi dalam negeri, tetapi juga pada kemampuan perusahaan energi nasional mengelola aset hulu di luar negeri secara berkelanjutan. 

Dalam konteks itulah keberhasilan PT Pertamina (Persero) membawa pulang satu juta barel minyak mentah dari Aljazair menjadi penanda penting bagi posisi Indonesia dalam rantai pasok energi global. 

Pengapalan ini tidak sekadar soal distribusi minyak, melainkan cerminan konsistensi strategi jangka panjang dalam menjaga keamanan pasokan energi nasional.

Pengiriman minyak mentah tersebut ditandai dengan bersandarnya kapal tanker MT Spyros di perairan selatan Cilacap, Jawa Tengah, setelah menempuh pelayaran laut lebih dari satu bulan. 

Minyak mentah yang diangkut berasal dari wilayah operasi Pertamina di Afrika Utara, sekaligus menjadi simbol keberhasilan pengelolaan aset hulu di luar negeri yang terintegrasi dengan kebutuhan kilang domestik.

Pengapalan Minyak Sebagai Penguat Ketahanan Energi Nasional

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa bersandarnya kapal MT Spyros membawa makna strategis bagi ketahanan energi Indonesia. 

“Bersandarnya kapal yang telah mengarungi samudera sebulan lebih ini menjadi harapan untuk visi ketahanan energi nasional. Ini merupakan bukti nyata Pertamina dalam mewujudkan amanah Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Simon.

Minyak mentah yang diboyong dari Aljazair ini berasal dari Wilayah Kerja Migas yang dikelola Pertamina Internasional Eksplorasi & Produksi (PIEP), anak usaha Subholding Upstream Pertamina. 

Keberhasilan pengapalan ini menjadi tonggak penting bagi operasional Pertamina di Afrika Utara, sekaligus menunjukkan kesinambungan produksi setelah perpanjangan Kontrak Bagi Hasil Produksi Blok 405A yang menjamin kelangsungan operasi hingga 25 tahun ke depan.

Dengan adanya kepastian kontrak jangka panjang tersebut, Pertamina memiliki ruang strategis untuk mengoptimalkan produksi sekaligus memastikan pasokan minyak mentah yang stabil bagi kebutuhan dalam negeri. 

Langkah ini juga memperkuat posisi Pertamina sebagai pemain energi nasional yang mampu mengelola aset global secara profesional dan berkelanjutan.

Perjalanan Panjang Dan Proses Penerimaan Terintegrasi

Kapal tanker MT Spyros memulai pelayaran dari Aljazair pada 24 Desember 2025 dan menempuh perjalanan laut selama lebih dari satu bulan sebelum akhirnya tiba di Cilacap. 

Setibanya di perairan selatan Jawa Tengah, kapal langsung menjalani proses sandar dan pembongkaran muatan dengan prosedur yang terintegrasi dan terkendali.

Saat bersandar, MT Spyros terhubung langsung dengan Control Room Refinery Unit IV Cilacap untuk memastikan seluruh proses penerimaan minyak mentah berjalan aman. 

Pengawasan dilakukan secara ketat guna menjamin keselamatan operasional serta menjaga kualitas minyak mentah yang akan diolah di kilang. 

Proses penerimaan kargo perdana ini juga disaksikan secara terhubung dari tiga lokasi, yakni Grha Pertamina Jakarta, Control Room RU IV Cilacap, serta lokasi operasional Pertamina di Aljazair.

Keterhubungan lintas lokasi tersebut mencerminkan sistem pengendalian operasi yang terintegrasi, sekaligus menunjukkan kesiapan infrastruktur Pertamina dalam mengelola rantai pasok energi dari hulu hingga hilir. Dengan sistem ini, setiap tahapan proses dapat dipantau secara real time untuk meminimalkan risiko operasional.

Sinergi Entitas Perkuat Rantai Pasok Energi

Simon menekankan bahwa keberhasilan pengapalan satu juta barel minyak mentah ini merupakan hasil sinergi lintas entitas di lingkungan Pertamina. Mulai dari PT Pertamina Internasional EP sebagai produsen di sektor hulu, Pertamina International Shipping sebagai pelaksana pengangkutan laut, hingga Kilang Pertamina Internasional yang bertanggung jawab mengolah minyak mentah di dalam negeri.

“Sinergi ini telah mampu memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok energi global, membuktikan bahwa Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri,” tambah Simon. Menurutnya, kolaborasi antarentitas menjadi kunci agar pengelolaan aset energi, baik di dalam maupun luar negeri, dapat berjalan efisien dan berkelanjutan.

Sinergi tersebut juga memperlihatkan kemampuan Pertamina mengintegrasikan operasi lintas wilayah dan lintas fungsi, dari eksplorasi, produksi, pengangkutan, hingga pengolahan. 

Dengan pendekatan terintegrasi ini, risiko ketergantungan pada pasokan eksternal dapat ditekan, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

Komitmen Keberlanjutan Dan Nilai Tambah Energi Nasional

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menyampaikan bahwa keberhasilan pengiriman minyak mentah dari Aljazair ke Indonesia tidak terlepas dari kerja keras dan dedikasi seluruh Perwira Pertamina. 

“Seluruh jajaran komisaris akan terus memberikan dukungan untuk mengawal proses di Pertamina hingga minyak mentah ini mampu menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat di seluruh Indonesia,” tegas Iriawan.

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut mencerminkan keseriusan Pertamina dalam menjaga pasokan energi nasional sekaligus mendorong produktivitas, dengan tetap mengedepankan prinsip kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan atau HSSE. Prinsip ini menjadi fondasi penting dalam setiap aktivitas operasional, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina juga menegaskan komitmennya untuk mendukung target Net Zero Emission 2060 serta mendorong program transisi energi yang sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals. 

Dengan tetap mengelola energi fosil secara bertanggung jawab, Pertamina berupaya memastikan keberlanjutan pasokan energi sembari menyiapkan langkah menuju masa depan energi yang lebih bersih.

Keberhasilan membawa pulang satu juta barel minyak mentah dari Aljazair tidak hanya menjadi pencapaian operasional, tetapi juga simbol kemampuan Indonesia mengelola sumber daya energi global demi kepentingan nasional. Langkah ini mempertegas peran Pertamina sebagai tulang punggung ketahanan energi, sekaligus penggerak nilai tambah bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Terkini