Astra Otoparts Cetak Laba Bersih Naik 8,43% Jadi Rp2,2 Triliun

Selasa, 24 Februari 2026 | 15:01:09 WIB
Astra Otoparts Cetak Laba Bersih Naik 8,43% Jadi Rp2,2 Triliun

JAKARTA - PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO), emiten komponen otomotif Grup Astra, berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun sepanjang tahun 2025, mencatatkan kenaikan sebesar 8,43% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Laporan keuangan yang dipublikasikan pada akhir Desember 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan laba ini didorong oleh peningkatan pendapatan bersih yang mencapai Rp19,90 triliun atau tumbuh 4,37% dari tahun sebelumnya.

Sebagian besar pendapatan Astra Otoparts berasal dari segmen manufaktur komponen otomotif, yang berkontribusi sebesar Rp11,76 triliun. Sementara segmen perdagangan menyumbang pendapatan sebesar Rp9,78 triliun. 

Meskipun ada biaya eliminasi sebesar Rp1,64 triliun, hasil akhir menunjukkan peningkatan signifikan dalam laba bersih. Dengan capaian ini, laba per saham (EPS) juga tercatat tumbuh menjadi Rp457, dari sebelumnya Rp422 pada tahun 2024.

Pertumbuhan Laba Kotor dan Pengelolaan Beban

Astra Otoparts berhasil mengelola beban pokok dengan baik, yang hanya naik sebesar 3,33% YoY menjadi Rp16,54 triliun. Hal ini berkontribusi pada pertumbuhan laba kotor yang melonjak 9,80% menjadi Rp3,36 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat Rp3,06 triliun. Peningkatan laba kotor ini mencerminkan efisiensi dalam operasional perusahaan, meskipun menghadapi tantangan pasar yang berat.

Kinerja positif ini juga tercermin pada posisi keuangan perusahaan. Di akhir 2025, kas dan setara kas AUTO meningkat signifikan hingga 25,38%, mencapai Rp4,53 triliun.

 Sementara itu, total aset perusahaan tumbuh 7,54% menjadi Rp22,61 triliun, didorong oleh penguatan ekuitas yang tercatat naik 8,83% menjadi Rp16,96 triliun. Liabilitas perusahaan juga terjaga dengan kenaikan tipis 3,84%, mencapai Rp5,65 triliun.

Strategi Diversifikasi untuk Menghadapi Tantangan Pasar

Menjelang tahun 2026, Astra Otoparts mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang lebih besar di sektor otomotif. Tahun 2025 telah menunjukkan penurunan pasar mobil domestik dengan total penjualan mencapai 803.691 unit, turun 7,1% dibandingkan tahun 2024. 

Kelesuan ini menjadi tantangan tersendiri bagi AUTO, yang selama ini mengandalkan segmen otomotif sebagai kontributor utama pendapatan.

Namun, Astra Otoparts tetap optimistis dengan mengandalkan strategi diversifikasi bisnis yang lebih luas. Direktur Keuangan AUTO, Sophie Handili, menjelaskan bahwa pihaknya akan terus fokus pada penguatan fundamental bisnis dan mencari peluang baru untuk tumbuh. 

Salah satu langkah yang diambil adalah mempercepat ekspansi ke sektor non-otomotif, termasuk alat kesehatan, komponen alat berat, dan pertambangan. Selain itu, AUTO juga berencana untuk memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan pasar ekspor komponennya.

“Melalui diversifikasi bisnis ini, kami berkomitmen untuk tidak hanya bergantung pada sektor otomotif, tetapi juga mengembangkan potensi di sektor-sektor lain yang dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pendapatan perusahaan,” jelas Sophie.

Efisiensi Operasional dan Fokus pada Pengurangan Biaya

Selain ekspansi dan diversifikasi, Astra Otoparts juga berfokus pada peningkatan efisiensi operasional guna mengatasi fluktuasi pasar. Salah satu strategi yang diutamakan adalah pengurangan biaya dan penerapan otomasi dalam proses produksi. 

Selain itu, perusahaan juga berencana untuk meningkatkan digitalisasi operasional, agar lebih efisien dalam mengelola struktur biaya dan dapat tetap kompetitif meskipun harga bahan baku dan permintaan pasar terus berubah.

Sophie menambahkan bahwa strategi pengurangan biaya ini sangat penting, terutama di tengah ketidakpastian pasar dan meningkatnya tantangan dalam industri otomotif. Dengan efisiensi yang lebih baik, Astra Otoparts berharap dapat menjaga kelangsungan kinerja keuangan yang positif meskipun ada tantangan makroekonomi yang memengaruhi pasar.

“Kami fokus pada produktivitas, efisiensi biaya, dan penguatan struktur biaya untuk memastikan kinerja keuangan tetap terjaga,” ungkap Sophie.

Terkini