JAKARTA - Kinerja perusahaan tambang nikel PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menunjukkan perkembangan yang cukup positif sepanjang tahun 2025.
Di tengah dinamika industri pertambangan yang dipengaruhi fluktuasi harga komoditas dan berbagai tantangan operasional, perusahaan tetap mampu mencatatkan peningkatan penjualan hingga menembus angka Rp 1 triliun.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa perusahaan mampu menjaga stabilitas bisnisnya di tengah kondisi industri yang terus berubah. Peningkatan penjualan juga menunjukkan adanya upaya penguatan fundamental bisnis yang dilakukan oleh manajemen perusahaan.
Selain meningkatkan kinerja operasional, Ifishdeco juga berupaya memperkuat struktur keuangan perusahaan. Hal ini dilakukan melalui optimalisasi operasional serta sinergi manajemen agar perusahaan tetap mampu menghadapi dinamika industri nikel yang semakin kompetitif.
Penjualan Perusahaan Meningkat Sepanjang Tahun
Sepanjang tahun 2025, PT Ifishdeco Tbk berhasil membukukan penjualan yang menembus Rp 1 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 2,90 persen secara tahunan atau year on year dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang berada pada level Rp 972,70 miliar.
Corporate Secretary Ifishdeco, Rivka Rotua Natasya, menjelaskan bahwa pertumbuhan penjualan tersebut didorong oleh peningkatan produksi dan penjualan silica dari entitas anak perusahaan.
"Tahun 2025, Ifishdeco memprioritaskan fundamental bisnis utamanya dengan meningkatkan sinergi manajemen dan optimalkan keunggulan operasional," kata Rivka dalam rilis yang disiarkan pada akhir pekan lalu.
Meski demikian, peningkatan penjualan tersebut juga diikuti oleh kenaikan beban pokok penjualan perusahaan. Beban pokok penjualan tercatat meningkat sekitar 5,76 persen secara tahunan menjadi Rp 709,69 miliar.
Kondisi tersebut berdampak pada laba bruto perusahaan yang mengalami penurunan. Laba bruto Ifishdeco tercatat menyusut sekitar 3,46 persen dari Rp 301,69 miliar pada tahun sebelumnya menjadi Rp 291,25 miliar pada tahun 2025.
Kinerja Laba Dan Operasional Perusahaan
Setelah dikurangi dengan beban umum dan administrasi yang mencapai Rp 141,94 miliar, perusahaan membukukan laba usaha sebesar Rp 149,31 miliar pada tahun 2025.
Angka tersebut sedikit menurun sekitar 1,53 persen dibandingkan laba usaha pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 151,63 miliar.
Meski mengalami penurunan pada laba usaha, perusahaan mencatat perkembangan positif pada beberapa komponen keuangan lainnya. Salah satunya adalah penurunan beban bunga yang cukup signifikan.
Beban bunga Ifishdeco tercatat turun sekitar 41,7 persen secara tahunan menjadi Rp 4,39 miliar. Selain itu, perusahaan juga berhasil membalikkan posisi beban lain-lain yang sebelumnya tercatat sebesar Rp 6,68 miliar pada tahun sebelumnya menjadi pendapatan lain-lain sebesar Rp 5,72 miliar pada tahun 2025.
Dengan berbagai perkembangan tersebut, perusahaan membukukan laba periode berjalan sebesar Rp 106,51 miliar pada tahun 2025. Angka ini mengalami pertumbuhan sekitar 6,39 persen dibandingkan laba periode berjalan pada tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp 100,11 miliar.
Namun jika dirinci lebih lanjut pada sisi bottom line, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 72,14 miliar. Angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 13,77 persen dibandingkan laba bersih pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp 83,66 miliar.
"Di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas, biaya produksi yang variatif, serta dinamika regulasi yang terus berkembang, Manajemen menegaskan bahwa kinerja tahun 2025 mencerminkan ketahanan Perseroan dalam menghadapi kompleksitas fundamental bisnis di tengah dinamika industri nikel yang terus berkembang," terang Rivka.
Penguatan Struktur Keuangan Perusahaan
Selain fokus pada peningkatan operasional, perusahaan juga melakukan langkah-langkah strategis untuk memperkuat struktur keuangan. Salah satu capaian yang berhasil diraih adalah penurunan total liabilitas perusahaan.
Hingga akhir tahun 2025, total liabilitas Ifishdeco tercatat turun sekitar 13,12 persen secara tahunan. Nilainya berkurang dari Rp 169,93 miliar menjadi Rp 147,62 miliar.
Pada saat yang sama, total ekuitas perusahaan mengalami peningkatan sekitar 8,96 persen. Ekuitas perusahaan naik dari Rp 838,03 miliar menjadi Rp 913,16 miliar.
Selain itu, total aset perusahaan juga mengalami peningkatan sekitar 5 persen secara tahunan. Aset perusahaan naik dari Rp 1,01 triliun menjadi Rp 1,06 triliun pada akhir tahun 2025.
Rivka juga menambahkan bahwa saldo laba perusahaan turut mengalami penguatan. Saldo laba tercatat meningkat sekitar 6,85 persen menjadi Rp 733,55 miliar, yang mencerminkan akumulasi profitabilitas perusahaan secara berkelanjutan.
Optimisme Menghadapi Peluang Industri Nikel
Memasuki tahun berikutnya, perusahaan menyatakan optimisme terhadap perkembangan industri nikel global. Permintaan nikel diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan ekspansi sektor penyimpanan energi serta pertumbuhan industri kendaraan listrik.
Di sisi lain, meningkatnya risiko geopolitik yang mempengaruhi industri energi konvensional juga mendorong perhatian yang lebih besar terhadap energi bersih dan kemandirian energi di berbagai negara.
Perusahaan juga terus mencermati perkembangan Harga Patokan Mineral (HPM) Indonesia yang dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren positif. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperkuat sentimen terhadap sektor nikel nasional.
Selain itu, perusahaan mencatat arus kas dari aktivitas operasi sebesar Rp 79,99 miliar. Meskipun angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, perusahaan tetap mampu menjaga posisi likuiditas yang sehat.
Saldo kas dan setara kas perusahaan pada akhir tahun tercatat sebesar Rp 109,29 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih memiliki kemampuan likuiditas yang cukup untuk mendukung operasional bisnis.
"Meski mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, IFSH tetap dapat menjaga posisi likuiditas yang sehat dengan saldo kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp 109,29 miliar," imbuh Rivka.
Dengan struktur permodalan yang semakin kuat serta tingkat liabilitas yang menurun, perusahaan menyatakan optimisme untuk menjaga stabilitas operasional sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan jangka panjang di industri nikel.