Harga CPO

Permintaan Asia Jadi Penopang Utama Penguatan Harga CPO Global

Permintaan Asia Jadi Penopang Utama Penguatan Harga CPO Global
Permintaan Asia Jadi Penopang Utama Penguatan Harga CPO Global

JAKARTA - Harga CPO Menguat, Prospek Permintaan India Jadi Penopang kembali menjadi perhatian pelaku pasar komoditas. 

Pergerakan harga menunjukkan sinyal positif di tengah dinamika persaingan minyak nabati global. Optimisme pasar muncul seiring peluang pemulihan permintaan dari negara konsumen utama.

Penguatan harga crude palm oil terjadi saat pelaku pasar menimbang keseimbangan pasokan dan permintaan. Harga yang semakin kompetitif membuka ruang pemulihan konsumsi. Meski begitu, tekanan dari minyak kedelai masih menjadi faktor pembatas.

Pasar berjangka CPO di Bursa Malaysia mencatatkan kenaikan pada awal pekan. Kenaikan ini mencerminkan sentimen positif jangka pendek. Investor tetap mencermati arah permintaan Asia sebagai penentu utama.

Pergerakan Kontrak Berjangka CPO

Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Februari 2026 mencatat kenaikan signifikan. Harga kontrak tersebut melonjak menjadi 4.100 Ringgit Malaysia per ton. Kenaikan ini menunjukkan respons pasar terhadap prospek permintaan.

Kontrak berjangka CPO Maret 2026 juga mengalami penguatan. Harga tercatat meningkat menjadi 4.132 Ringgit Malaysia per ton. Pergerakan ini memperkuat tren kenaikan di pasar berjangka.

Untuk kontrak April 2026, harga turut bergerak naik menjadi 4.160 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Mei 2026 meningkat ke level 4.167 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak Juni dan Juli 2026 masing-masing menguat ke 4.161 dan 4.153 Ringgit Malaysia per ton.

Prospek Permintaan India Mulai Membaik

Permintaan minyak sawit India diperkirakan berangsur meningkat sepanjang tahun. Penurunan harga membuat minyak sawit kembali kompetitif. Namun, pertumbuhannya dinilai masih terbatas.

Persaingan dengan minyak kedelai asal China menjadi tantangan utama. Lonjakan ekspor minyak kedelai sebelumnya menekan permintaan minyak sawit India. Konsumen sempat beralih ke minyak kedelai karena harga yang lebih menarik.

Kondisi tersebut menyebabkan kelebihan pasokan di pasar global. Harga minyak sawit sempat turun di bawah harga minyak kedelai. Situasi ini kemudian membuka peluang pemulihan permintaan minyak sawit.

Saat ini, CPO ditawarkan sekitar US$1.165 per ton dengan basis CIF untuk pengiriman ke India. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan minyak kedelai mentah yang berada di kisaran US$1.281 per ton. Selisih harga ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli.

Proyeksi Impor dan Konsumsi India

India diperkirakan akan meningkatkan impor minyak sawit tahun ini. Total impor diproyeksikan berada di kisaran 8,5 hingga 9 juta ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

India merupakan importir minyak sawit terbesar di dunia. Meski demikian, derasnya ekspor minyak kedelai China diperkirakan masih membatasi pemulihan permintaan. Pasar menilai proses pemulihan akan berjalan bertahap.

“Kami memperkirakan India harus mengimpor sekitar 15,5 hingga 16 juta ton minyak nabati,” kata Bagani. Dari jumlah tersebut, sekitar 8,5 hingga 9 juta ton berasal dari minyak sawit. Sisanya berasal dari minyak kedelai dan minyak bunga matahari.

Secara keseluruhan, konsumsi minyak nabati India diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton. Angka ini relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya. Pasokan domestik diperkirakan hanya berada di kisaran 9 hingga 9,5 juta ton.

Tekanan Pasokan dan Dinamika Global

China saat ini meningkatkan ekspor minyak kedelai akibat kelebihan pasokan. Negara tersebut mengimpor kedelai dalam jumlah besar mencapai 111,83 juta ton. Impor tersebut meningkat secara tahunan dan memicu surplus.

“Mereka mengekspor hampir 100.000 ton per bulan, dan itu sangat memukul pasar India,” ujar Dorab Mistry. “Dampaknya terasa ke minyak sawit, kedelai India, bahkan ke seluruh pasar,” tambahnya. Ia menilai posisi China telah berubah menjadi eksportir minyak nabati.

Indonesia dan Malaysia masih menjadi produsen minyak sawit terbesar dunia. Produksi minyak sawit dan minyak kedelai yang kuat dinilai terus menekan harga. Kondisi ini justru dapat dimanfaatkan oleh pembeli seperti India.

“India mau tidak mau tetap harus mengimpor minyak sawit karena faktor harga yang relatif lebih murah,” ujar seorang analis dari perusahaan minyak sawit besar di Malaysia. Pernyataan ini menegaskan daya saing harga CPO. Faktor harga menjadi kunci keputusan impor.

Mistry juga memproyeksikan permintaan minyak nabati India cenderung stagnan. Pertumbuhan populasi yang melambat turut memengaruhi konsumsi. Imbauan pemerintah terkait kesehatan juga menjadi faktor tambahan.

Secara keseluruhan, harga CPO masih berpeluang bergerak stabil. Prospek permintaan India menjadi penopang utama di tengah tekanan global. Harga CPO Menguat, Prospek Permintaan India Jadi Penopang mencerminkan dinamika tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index