Logistik

Pelindo Tambah Alat Bongkar Muat untuk Perkuat Kinerja Logistik Nasional

Pelindo Tambah Alat Bongkar Muat untuk Perkuat Kinerja Logistik Nasional
Pelindo Tambah Alat Bongkar Muat untuk Perkuat Kinerja Logistik Nasional

JAKARTA - Upaya peningkatan kinerja logistik nasional terus dilakukan melalui penguatan fasilitas pelabuhan. 

Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah penambahan alat bongkar muat di berbagai terminal peti kemas. Pelindo Tambah Alat Bongkar Muat untuk Tingkatkan Layanan Peti Kemas menjadi bagian dari agenda tersebut.

Penambahan peralatan ini diharapkan mampu menjawab tantangan peningkatan arus barang. Terminal peti kemas dituntut bekerja lebih efisien dan andal. Modernisasi peralatan menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran operasional.

PT Pelindo Terminal Petikemas menyiapkan alat bongkar muat baru dalam jumlah signifikan. Langkah ini sekaligus menunjukkan komitmen perusahaan terhadap peningkatan kualitas layanan. Fokus utama diarahkan pada terminal-terminal strategis di berbagai wilayah.

Pengadaan Alat Baru untuk Mendukung Operasional

Sejumlah terminal peti kemas yang dioperasikan PT Pelindo Terminal Petikemas akan menerima alat bongkar muat baru. Secara keseluruhan, terdapat 13 unit quay container crane dan 26 unit rubber tyred gantry crane. Seluruh alat tersebut didatangkan dalam kondisi baru.

Quay container crane berfungsi sebagai alat angkat peti kemas di dermaga. Sementara itu, rubber tyred gantry crane digunakan untuk penanganan peti kemas di lapangan penumpukan. Kedua jenis alat ini menjadi tulang punggung aktivitas bongkar muat.

Alat-alat tersebut direncanakan mulai tiba secara bertahap pada semester kedua 2026. Pengiriman bertahap dilakukan untuk memastikan kesiapan terminal penerima. Dengan demikian, operasional dapat berjalan tanpa gangguan.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra menyampaikan bahwa pengadaan ini merupakan bagian dari peningkatan layanan. Fokusnya adalah memastikan proses bongkar muat lebih cepat dan andal. Langkah ini juga mendukung peningkatan kapasitas terminal.

Penempatan di Terminal Utama dan Daerah

Menurut Widyaswendra, alat bongkar muat baru akan ditempatkan di terminal utama. Beberapa di antaranya adalah TPK Belawan, TPS Surabaya, dan TPK Semarang. Ketiga terminal tersebut memiliki peran penting dalam arus logistik nasional.

Selain terminal utama, sejumlah terminal lain juga akan menerima peralatan baru. Terminal tersebut meliputi TPK Panjang, TPK Perawang, dan TPK Banjarmasin. Penempatan ini bertujuan meratakan peningkatan layanan di berbagai wilayah.

Terminal lainnya yang masuk dalam daftar penerima adalah TPK Nilam, TPK Kendari, dan TPK Kijing. Distribusi alat ini menunjukkan pendekatan pemerataan. Pelindo ingin memastikan seluruh terminal strategis memiliki fasilitas memadai.

“Selain mendatangkan alat baru, PT Pelindo Terminal Petikemas juga akan melakukan optimalisasi aset sejumlah alat baik QCC maupun RTG untuk mendukung kehandalan bongkar muat di terminal lainnya, seperti di TPK Berlian yang akan dilengkapi dengan dua unit QCC,” tambah Widyaswendra. Optimalisasi ini dilakukan agar aset yang ada dapat dimanfaatkan maksimal. Langkah tersebut melengkapi strategi pengadaan alat baru.

Dorongan Kolaborasi Industri Kepelabuhanan

Ketua DPP Indonesia National Shipowners’ Association Carmelita Hartoto menilai kolaborasi menjadi faktor kunci. Menurutnya, pertumbuhan lalu lintas barang menuntut pembenahan berkelanjutan. Infrastruktur dan suprastruktur pelabuhan perlu terus ditingkatkan.

Ia menegaskan bahwa pelabuhan harus mampu mengimbangi peningkatan aktivitas logistik. Tanpa dukungan peralatan yang memadai, efisiensi sulit dicapai. Karena itu, pembaruan fasilitas menjadi kebutuhan mendesak.

“Dukungan infrastruktur, peralatan dan sistem operasi pelabuhan, harus terus diperbarui agar distribusi logistik nasional lebih optimal,” ungkapnya. Pernyataan tersebut menekankan pentingnya kesinambungan investasi. Semua pihak diharapkan berperan aktif.

Kolaborasi antar pemangku kepentingan dianggap sebagai fondasi penguatan industri. Operator pelabuhan, pemilik kapal, dan pemerintah memiliki peran masing-masing. Sinergi yang kuat akan mempercepat peningkatan daya saing.

Tantangan Regulasi dan Standarisasi Layanan

Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Trismawan Sanjaya menyoroti tantangan yang masih dihadapi. Ia menyebut ketidakpastian regulasi sebagai salah satu kendala utama. Disparitas infrastruktur antarwilayah juga menjadi perhatian.

Selain itu, perbedaan kualitas sumber daya manusia antar daerah turut memengaruhi kinerja logistik. Standarisasi layanan, termasuk di pelabuhan, dinilai sangat diperlukan. Hal ini penting untuk menciptakan keseragaman kualitas.

Trismawan menekankan pentingnya infrastruktur logistik berbasis teknologi. Integrasi layanan menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi. Dengan sistem terintegrasi, rantai logistik dapat berjalan lebih lancar.

Ia menyatakan bahwa semua pihak memiliki peran dalam mata rantai logistik. Operator pelabuhan, jasa transportasi, hingga pergudangan harus bekerja selaras. Tujuannya adalah menghadirkan biaya logistik yang kompetitif.

“Semua pihak memiliki peran dalam mata rantai logistik untuk menghadirkan biaya logistik yang kompetitif, baik itu operator pelabuhan, jasa transportasi, hingga pergudangan,” pungkasnya. Pernyataan ini menutup gambaran pentingnya sinergi. Penguatan peralatan menjadi salah satu langkah nyata mendukung tujuan tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index