JAKARTA - Mengonsumsi mi instan sebagai menu tunggal saat waktu sahur yang mepet dapat memberikan dampak kurang baik bagi metabolisme tubuh dalam menjalankan ibadah puasa.
Keterbatasan waktu saat bangun kesiangan sering kali membuat banyak orang memilih jalan pintas dengan menyajikan makanan cepat saji tanpa mempertimbangkan kandungan nutrisi yang masuk ke tubuh.
Padahal jenis asupan makanan pada dini hari sangat menentukan sejauh mana ketahanan energi seseorang ketika harus menahan lapar dan haus selama belasan jam ke depan.
Rendahnya Kandungan Serat Dan Lonjakan Gula Darah
Mi instan terbuat dari tepung terigu olahan yang termasuk dalam kategori karbohidrat sederhana sehingga sangat cepat diserap oleh sistem pencernaan manusia setelah dikonsumsi secara langsung.
Kondisi ini menyebabkan kadar gula darah naik secara instan namun akan merosot dengan cepat kembali sehingga tubuh akan merasa lemas hanya dalam beberapa jam saja.
Pada Jumat 20 Februari 2026 para ahli kesehatan menekankan bahwa kurangnya serat pada mi instan membuat perut tidak akan merasa kenyang dalam waktu yang lama.
Tingginya Kadar Natrium Pemicu Dehidrasi Lebih Awal
Salah satu masalah utama dari bumbu mi instan adalah kandungan natrium atau garam yang sangat tinggi sehingga dapat menarik cairan keluar dari sel-sel tubuh manusia.
Tingginya natrium ini akan memberikan rangsangan pada otak untuk terus merasa haus sehingga pengemudi atau pekerja lapangan akan merasa sangat tersiksa karena dahaga yang hebat.
Dehidrasi yang dipicu oleh asupan garam berlebih saat sahur dapat mengganggu fokus dan konsentrasi serta menyebabkan mulut terasa sangat kering sepanjang hari saat beraktivitas rutin.
Beban Kerja Pencernaan Terhadap Bahan Pengawet Makanan
Proses pembuatan mi instan melibatkan proses penggorengan yang membuat kandungan lemak jenuhnya tinggi sehingga lambung memerlukan waktu dan usaha lebih besar untuk melakukan proses pemecahan.
Bagi pemilik lambung sensitif mengonsumsi mi instan dalam keadaan perut kosong setelah bangun tidur dapat memicu peningkatan asam lambung yang menimbulkan rasa perih dan begah.
Kandungan bahan pengawet di dalamnya juga memaksa organ hati bekerja lebih keras untuk melakukan detoksifikasi di saat tubuh seharusnya melakukan regenerasi sel selama masa berpuasa tersebut.
Kurangnya Suplai Mikronutrien Penting Untuk Daya Tahan
Mi instan sangat minim akan kandungan vitamin serta mineral alami yang dibutuhkan untuk menjaga sistem imunitas tubuh agar tidak mudah terserang penyakit selama bulan Ramadan.
Tanpa adanya tambahan protein seperti telur atau sayuran hijau maka tubuh hanya akan mendapatkan kalori kosong yang tidak bermanfaat bagi pemeliharaan jaringan otot serta saraf.
Daya tahan tubuh yang menurun akibat pola makan sahur yang buruk akan membuat seseorang menjadi lebih rentan mengalami flu atau sakit kepala akibat kekurangan nutrisi mikro.
Saran Penggunaan Toping Bergizi Sebagai Langkah Darurat
Jika dalam keadaan terpaksa harus mengonsumsi mi instan karena waktu yang sangat mepet sangat disarankan untuk menambahkan sumber protein dan serat ke dalam mangkuk.
Menambahkan satu butir telur dan segenggam sawi atau sayuran beku dapat membantu memperlambat proses penyerapan karbohidrat sehingga energi yang dihasilkan akan menjadi sedikit lebih stabil.
Namun tetap diingat bahwa penggunaan mi instan tidak boleh dijadikan kebiasaan rutin setiap hari selama puasa demi menjaga kesehatan organ dalam serta stabilitas energi jangka panjang.