Peternakan Berkelanjutan

BRIN Dorong Inovasi Peternakan Berkelanjutan dengan Pendekatan Sains Modern

BRIN Dorong Inovasi Peternakan Berkelanjutan dengan Pendekatan Sains Modern
BRIN Dorong Inovasi Peternakan Berkelanjutan dengan Pendekatan Sains Modern

JAKARTA - Industri peternakan menghadapi tantangan kompleks yang melibatkan kebutuhan pangan, kesenjangan gizi, dan tekanan perubahan iklim. 

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong transformasi peternakan berbasis sains untuk menjawab tantangan tersebut. Langkah ini sekaligus bertujuan meningkatkan ketahanan gizi dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia.

Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan posisi strategis sektor peternakan dalam rantai nilai agrifood. “Masyarakat global sedang menghadapi serangkaian tantangan yang saling terkait dan semakin kompleks, mulai dari meningkatnya permintaan pangan dan kesenjangan gizi yang terus-menerus terjadi, hingga tekanan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya,” katanya. 

Transformasi sektor ini dinilai krusial untuk memastikan keberlanjutan produksi pangan.

Menurut Arif, pendekatan berbasis sains menjadi landasan utama dalam merancang kebijakan dan inovasi. Sains harus menjadi pusat transformasi agar keputusan yang diambil efektif, berkelanjutan, dan berorientasi pada dampak nyata. Pendekatan ilmiah juga memerlukan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan hasil penelitian dapat diterapkan secara langsung di lapangan.

Pendekatan Ilmiah dalam Transformasi Peternakan

BRIN menekankan pemanfaatan Life Cycle Assessment (LCA) sebagai fondasi kebijakan. Sistem peternakan digital berbasis data juga menjadi salah satu fokus utama untuk meningkatkan efisiensi produksi. Selain itu, integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir diupayakan agar produksi peternakan lebih terkoordinasi dan berkelanjutan.

“Di BRIN, kami sangat percaya bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi pusat dari transformasi ini,” jelas Arif Satria. Pendekatan ilmiah ini dianggap mampu meminimalkan dampak lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas. Langkah-langkah tersebut membentuk dasar pengambilan keputusan yang berbasis bukti dan data.

Namun, Arif mengingatkan bahwa sains sendiri tidak cukup tanpa dukungan kebijakan dan investasi. Penyelarasannya diperlukan agar inovasi dan teknologi dapat menjangkau masyarakat luas. Kesenjangan antara penelitian dan implementasi di lapangan harus dijembatani agar transformasi peternakan benar-benar memberi dampak positif.

Kolaborasi Internasional dan Peran FAO

Untuk memperkuat transformasi, BRIN bekerja sama erat dengan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). FAO membantu memajukan jaringan ilmiah global dan menyediakan metodologi untuk menilai kinerja lingkungan sistem peternakan. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis agar inovasi lokal dapat terhubung dengan praktik global.

Arif menjelaskan, kerjasama internasional juga membantu memperkuat kapasitas penelitian dalam negeri. “Kolaborasi global ini memungkinkan kita mendapatkan panduan ilmiah terbaik serta memanfaatkan pengalaman negara lain,” ujar Arif. Dengan dukungan jaringan ilmiah, transformasi peternakan berkelanjutan dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.

Selain FAO, pertemuan strategis internasional menghadirkan delegasi dari berbagai negara. Tujuannya untuk bertukar praktik terbaik dan membangun konsensus tentang arah pengembangan peternakan berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan sektor peternakan bersifat lintas batas dan membutuhkan koordinasi global.

Arah Strategis dan Inovasi Data Peternakan

Arif menekankan tiga arah strategis dari pertemuan tersebut. Pertama, memperkuat inovasi berbasis data yang kuat agar produksi lebih efisien dan ramah lingkungan. Kedua, mempercepat integrasi sistem agrifood sehingga keberlanjutan tidak terfragmentasi. Ketiga, mendorong investasi bersama antarpemangku kepentingan untuk mempercepat adopsi teknologi.

Pendekatan berbasis data juga diterapkan untuk memonitor produktivitas ternak dan efisiensi pakan. Teknologi digital memungkinkan pemantauan real-time, sehingga peternak bisa mengambil keputusan lebih tepat. Dengan informasi yang akurat, risiko kesalahan manajemen dapat diminimalkan, dan hasil produksi meningkat.

Arif menegaskan, transformasi ini tidak hanya soal inovasi teknologi tetapi juga pembangunan kapasitas manusia. “Mari kita selaraskan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan investasi untuk mengubah sektor peternakan ini menjadi pendorong ketahanan gizi global dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya. Pendekatan menyeluruh ini diharapkan menciptakan ekosistem peternakan modern dan berkelanjutan.

Implementasi Nyata dan Pembentukan Gugus Tugas

Sebagai tindak lanjut, BRIN segera membentuk gugus tugas di bawah Deputi Kebijakan Pembangunan. Gugus tugas ini akan mengawasi implementasi kebijakan berbasis sains, pemetaan inovasi, dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Tujuannya memastikan semua langkah strategis dapat diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan.

Gugus tugas juga akan memfasilitasi integrasi antara penelitian, kebijakan, dan investasi. Dengan koordinasi ini, inovasi di laboratorium bisa langsung diterapkan di lapangan. Langkah ini diharapkan mempercepat pencapaian target transformasi peternakan yang ramah lingkungan dan produktif.

BRIN berharap pembentukan gugus tugas menjadi penggerak utama perubahan sektor peternakan. Kolaborasi yang terstruktur diyakini mampu menghasilkan dampak nyata bagi ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi. Semua pihak diminta berperan aktif dalam menjadikan transformasi ini berhasil.

Harapan dan Dampak Transformasi Peternakan

Transformasi peternakan berkelanjutan diharapkan memberi dampak positif bagi ketahanan gizi nasional dan global. Arif Satria menekankan, transformasi ini bukan hanya soal teknologi tetapi juga soal sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan investasi. Dengan kolaborasi yang kuat, sektor peternakan dapat menjadi penggerak ekonomi dan ketahanan pangan.

Langkah ini juga diharapkan membuka peluang investasi baru dan memperkuat daya saing industri peternakan Indonesia. Implementasi transformasi berbasis sains diharapkan memberikan contoh bagi negara lain dalam menerapkan keberlanjutan dan inovasi. Arif mengajak semua pihak untuk mendukung transformasi agar sektor peternakan mampu menjawab tantangan masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index