JAKARTA - Upaya pemerintah dalam memperbaiki sistem administrasi perpajakan terus menunjukkan perkembangan positif.
Penerapan sistem Coretax yang mulai berjalan sejak awal 2025 dinilai membawa perubahan signifikan dalam kemudahan layanan perpajakan. Sistem ini dipandang mampu mendorong kepatuhan wajib pajak secara lebih berkelanjutan.
Pakar ekonomi Universitas Airlangga Rahmat Setiawan menilai Coretax kini berkembang menjadi sistem yang lebih baik dibandingkan DJP Online.
Menurutnya, integrasi berbagai layanan dalam satu sistem mempermudah wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Penilaian ini didasarkan pada pengalaman penggunaan sistem selama satu tahun terakhir.
Coretax dirancang sebagai sistem terpadu yang mencakup berbagai layanan administrasi pajak. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan efisiensi sekaligus akurasi pelaporan. Dengan sistem yang semakin stabil, potensi kepatuhan sukarela dinilai semakin terbuka.
Kemudahan Akses dan Integrasi Layanan
Rahmat menjelaskan bahwa Coretax memudahkan wajib pajak dalam mengakses informasi perpajakan. Berbagai fitur seperti e-faktur, e-bupot, hingga e-filing telah terintegrasi dalam satu sistem. Integrasi ini dinilai membuat proses administrasi menjadi lebih sederhana dan praktis.
Kemudahan tersebut dirasakan baik oleh wajib pajak orang pribadi maupun badan usaha. Sistem terpadu mengurangi kebutuhan berpindah platform dalam pelaporan pajak. Hal ini meningkatkan efisiensi waktu dan meminimalkan kesalahan administratif.
Meski demikian, Rahmat mengakui sempat muncul kendala teknis pada tahap awal penerapan. Beberapa wajib pajak mengalami kesulitan dalam proses pelaporan. Kendala tersebut dinilai sebagai bagian dari fase penyesuaian sistem baru.
Dampak Terhadap Penerimaan Pajak
Rahmat menilai potensi peningkatan penerimaan pajak tetap terbuka apabila Coretax berjalan normal. Namun, peningkatan tersebut lebih bersifat optimalisasi target yang telah ditetapkan pemerintah. Ia menegaskan tidak akan terjadi lonjakan penerimaan secara instan.
“Karena proses pengadministrasiannya lebih mudah, penghitungan pajaknya itu lebih tepat dan lebih akurat, akan membuat wajib pajak ini akan lebih enjoy, lebih sukarela untuk membayar pajaknya, tetapi sekali lagi ya, kalau dampaknya sangat signifikan sekali sih enggak,” kata Rahmat.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dampak utama Coretax adalah peningkatan kepatuhan. Sistem ini mendorong kenyamanan dalam pelaporan pajak.
Menurut Rahmat, akurasi penghitungan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan wajib pajak. Ketika sistem berjalan baik, potensi kesalahan dapat ditekan. Hal ini berdampak pada kepatuhan jangka panjang.
Peran Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Rahmat menekankan bahwa penerimaan pajak sangat bergantung pada pertumbuhan pendapatan nasional. Ketika pendapatan individu dan badan usaha meningkat, setoran pajak akan ikut naik. Coretax tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan pertumbuhan ekonomi.
“Karena kalau ingin pajaknya meningkat, logika sederhananya pendapatan nasional itu harus meningkat, itu otomatis,” ujarnya. Ia menilai Coretax lebih berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan ketaatan. Sistem ini membantu memastikan kewajiban pajak dipenuhi secara tepat.
Coretax dinilai tidak dirancang untuk menciptakan pajak baru. Fokus utamanya adalah memperbaiki proses administrasi. Dengan demikian, kepatuhan dapat tumbuh seiring peningkatan pendapatan masyarakat.
Evaluasi Sosialisasi dan Tantangan Awal
Rahmat mengingatkan pentingnya sosialisasi dalam penerapan sistem baru. Ia menilai kurangnya sosialisasi di awal implementasi Coretax sempat menimbulkan kebingungan. Kondisi tersebut berdampak pada pelaporan pajak oleh wajib pajak.
Ia mencontohkan penurunan penerimaan pajak pada triwulan pertama 2025. Menurutnya, salah satu faktor penyebabnya adalah penerapan Coretax yang terlalu dini. Minimnya sosialisasi membuat sebagian wajib pajak belum siap menggunakan sistem.
“Penerapan dari Coretax ini yang terlalu dini, sehingga ketika diterapkan tanpa sosialisasi yang baik, itu akan menyebabkan kebingungan bagi wajib pajak,” tegasnya. Kebingungan tersebut berdampak pada keterlambatan pembayaran pajak. Hal ini sempat menjadi sorotan publik.
Perbaikan Berkelanjutan dan Keamanan Sistem
Rahmat menilai kondisi tersebut kini mulai membaik. Sosialisasi yang dilakukan selama satu tahun terakhir dinilai lebih masif dan efektif. Ia merasakan langsung bahwa sistem Coretax kini berjalan lebih stabil.
“Jadi sekali lagi jika ada kelemahan penerapan Coretax, itu dari sisi sosialisasi,” imbuhnya. Menurut Rahmat, saat ini wajib pajak semakin terbiasa dengan sistem. Adaptasi yang baik meningkatkan efektivitas penggunaan.
Ke depan, Rahmat menekankan pentingnya perhatian pada keamanan siber Coretax. Sistem ini mengintegrasikan teknologi cloud dan artificial intelligence yang menyimpan data sensitif. Penguatan keamanan dan pemutakhiran sistem menjadi kunci keberlanjutan Coretax.