JAKARTA - DBD Masih Mengintai, Meski Angka Kematian Terus Menurun menunjukkan adanya capaian signifikan dalam pengendalian dengue di Indonesia.
Case fatality rate (CFR) dengue menurun dari 0,96 persen pada 2021 menjadi 0,42 persen pada 2025. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kasus akibat perubahan iklim dan urbanisasi yang memicu penularan tinggi.
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan menekankan bahwa angka kematian yang menurun mencerminkan efektivitas sistem layanan kesehatan nasional.
Peran aktif masyarakat juga menjadi kunci, termasuk kegiatan pemantauan jentik dari rumah ke rumah. Strategi berbasis komunitas ini menjadi salah satu faktor keberhasilan menekan risiko kematian.
Meski begitu, dengue tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius. Penyebaran penyakit ini tidak menurun secara drastis, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan. Pemerintah optimistis menjaga CFR di bawah 0,5 persen sebagai langkah menuju nol kematian pada 2030.
Peran Kolaboratif dan Regional
Pengendalian dengue tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri oleh pemerintah pusat. Direktur Penyakit Menular menekankan perlunya pendekatan kolaboratif lintas negara di Asia Tenggara. Infeksi dengue masih menjadi masalah regional, sehingga koordinasi antarnegara ASEAN menjadi penting untuk mengefektifkan penanggulangan.
Indonesia mengambil inisiatif menjadi tuan rumah forum regional pencegahan dan pengendalian dengue dengan dukungan mitra strategis.
Forum ini diharapkan menghasilkan usulan konkret dari masing-masing negara yang dapat diadopsi di tingkat regional. Pendekatan kolektif ini diharapkan memperkuat kemampuan menghadapi penyakit menular di kawasan.
Kerja sama regional juga mencakup pertukaran strategi pengendalian lingkungan dan inovasi kesehatan. Setiap negara bisa belajar dari pengalaman negara lain dalam menangani dengue. Jika dilakukan secara konsisten, kolaborasi ini akan memberikan dampak signifikan bagi penurunan kasus di ASEAN.
Pendekatan Komprehensif di Dalam Negeri
Di tingkat nasional, pengendalian dengue dilakukan melalui integrasi berbagai strategi mulai dari pengendalian lingkungan hingga perlindungan manusia.
Pemerintah menyediakan vaksin dengue yang telah memiliki izin edar, meski masih bergantung pada inisiatif daerah. Uji coba vaksin dilakukan di lima wilayah dengan beban kasus tinggi dan terus dievaluasi untuk pengembangan lebih luas.
Direktur Penyakit Menular menekankan perlunya pembelajaran dari lima wilayah tersebut sebelum memperluas program vaksin ke seluruh daerah. Keberhasilan vaksinasi akan memperkuat strategi pengendalian yang sudah berjalan. Pendekatan ini diharapkan mampu menekan angka kematian lebih efektif.
Selain vaksin, inovasi Wolbachia menjadi strategi tambahan yang diterapkan di beberapa wilayah. Penggunaan kombinasi metode diharapkan memberikan hasil yang lebih signifikan. Pendekatan ini mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra swasta.
Keterlibatan Masyarakat dan Mitra Strategis
Ketua KOBAR menilai tantangan utama pengendalian dengue adalah keterlibatan semua pihak, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. “Tidak mungkin pemerintah pusat saja yang membuat program nasional.
Masyarakat dan pemerintah daerah juga harus ikut bersama-sama mencegah dengue,” ujarnya. Partisipasi aktif masyarakat menjadi penentu efektivitas setiap program.
Program berbasis komunitas, seperti pemantauan jentik, pembinaan lingkungan bersih, dan edukasi kesehatan, menjadi pilar utama strategi pengendalian. Inisiatif ini memungkinkan masyarakat berperan langsung dalam mengurangi risiko penularan.
Keberhasilan uji coba vaksin di lima wilayah menjadi bukti bahwa kolaborasi multisektor memberikan hasil positif.
General Manager Takeda Indonesia menambahkan, pengendalian dengue hanya bisa berhasil jika semua pendekatan digabungkan.
Inovasi Wolbachia dan vaksin menjadi contoh bagaimana strategi modern dapat digunakan secara bersamaan. Menggabungkan seluruh metode diharapkan menghasilkan pengurangan kasus dan angka kematian yang lebih signifikan.
Target Nol Kematian Dengue 2030
Pemerintah menargetkan nol kematian akibat dengue pada 2030 melalui kombinasi strategi pengendalian dan inovasi. Program ini mencakup pengendalian lingkungan, perlindungan manusia melalui vaksinasi, dan kolaborasi lintas negara. Dengan menjaga CFR di bawah 0,5 persen, Indonesia berada di jalur yang tepat menuju target nasional.
Meski tren penurunan terlihat, kewaspadaan tetap diperlukan karena kasus dengue masih tinggi. Strategi integratif dan kolaborasi akan terus diperkuat agar target jangka panjang dapat tercapai. Semua pihak diharapkan tetap berperan aktif untuk memastikan upaya pencegahan dan pengendalian berjalan optimal.
Keberhasilan pengendalian dengue di masa depan bergantung pada kerja sama berkelanjutan. Pemerintah, masyarakat, dan mitra strategis perlu menjaga momentum yang telah tercipta. Dengan pendekatan holistik ini, Indonesia dapat mencapai pengurangan signifikan dalam kasus dan angka kematian akibat dengue.