Bank Indonesia Yakin Optimisme Ekonomi Nasional Dorong Pertumbuhan 2026

Senin, 02 Februari 2026 | 10:31:31 WIB
Bank Indonesia Yakin Optimisme Ekonomi Nasional Dorong Pertumbuhan 2026

JAKARTA - Bank Indonesia menegaskan perekonomian nasional tetap berada pada jalur pertumbuhan positif. 

Laporan Perekonomian Indonesia tahun 2025 menyoroti optimisme dan sinergi dalam menjaga daya tahan ekonomi. Langkah ini mencerminkan komitmen untuk membangun pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Laporan tersebut memuat evaluasi kondisi ekonomi global dan domestik sepanjang 2025. BI menekankan pentingnya transparansi kebijakan sebagai wujud akuntabilitas bank sentral. Hal ini bertujuan menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik terhadap kebijakan moneter.

Optimisme Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional akan terus terjaga. Cadangan devisa menjadi salah satu indikator utama yang menunjukkan ketahanan ekonomi. Pada akhir 2025, cadangan devisa tercatat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai impor selama enam bulan lebih dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Hal ini berada di atas standar kecukupan internasional yang direkomendasikan sekitar tiga bulan. Dengan demikian, stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah dapat lebih terjamin.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2026 diperkirakan berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Titik tengah pertumbuhan dipatok di angka 5,3 persen sebagai acuan kebijakan. Sementara pada 2027, pertumbuhan diproyeksikan lebih tinggi dengan kisaran 5,1 hingga 5,9 persen.

Dukungan Komitmen dan Sinergi Pemangku Kepentingan

Bank Indonesia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha. Sinergi ini diharapkan memperkuat optimisme serta komitmen dalam menjaga pertumbuhan. Langkah tersebut juga mendukung ekonomi yang lebih tangguh di tengah ketidakpastian global.

Selain itu, BI mendorong pertumbuhan kredit di kisaran 8-12 persen pada 2026 dan 9-13 persen pada 2027. Ekspansi transaksi digital QRIS juga menjadi fokus, dengan target 17 miliar transaksi. Jumlah pengguna diproyeksikan mencapai 60 juta, termasuk 45 juta pelaku UMKM.

Inisiatif digital tersebut memperkuat inklusi keuangan. Ekspansi QRIS ke luar negeri mencakup delapan negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang. Strategi ini diharapkan meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas layanan keuangan.

Bauran Kebijakan Makroprudensial dan Moneter

Bank Indonesia mempertahankan kebijakan makroprudensial longgar hingga 2027. Instrumen tersebut digunakan untuk mendorong pertumbuhan kredit dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Insentif likuiditas makroprudensial diperluas untuk sektor prioritas pemerintah.

Hingga akhir 2025, insentif KLM tercatat mencapai Rp388,06 triliun. Hal ini mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor utama. Kebijakan makroprudensial ditujukan untuk menciptakan stabilitas dan pertumbuhan yang optimal.

Suku bunga acuan BI Rate turun lima kali sepanjang 2025 hingga 4,75 persen. Penurunan ini memberi ruang mendorong pertumbuhan ekonomi. BI tetap memanfaatkan ruang penurunan suku bunga dengan inflasi rendah dan ekspansi likuiditas moneter.

Strategi Menjaga Inflasi dan Nilai Tukar

Bank Indonesia menargetkan inflasi tetap terkendali pada kisaran 2,5±1 persen selama 2026-2027. Kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah. Upaya ini juga mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi instrumen penting dalam menghadapi gejolak global. BI memastikan cadangan devisa cukup untuk menahan tekanan eksternal. Sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait menjadi fokus utama.

Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas makroekonomi. Ekonomi domestik tetap tangguh meski menghadapi ketidakpastian global. Pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan menjadi sasaran utama.

Pemantauan dan Koordinasi Lanjutan

Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Sinergi ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan berdaya tahan. BI juga waspada terhadap gejolak dan dampak rambatan ekonomi domestik.

Koordinasi dilakukan dengan pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha. Tujuannya agar kebijakan moneter dan makroprudensial berjalan efektif. Langkah ini diharapkan menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pemantauan terus-menerus terhadap kondisi global dan domestik menjadi kunci. BI menekankan adaptasi kebijakan secara responsif terhadap perubahan ekonomi. Dengan strategi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap optimis dan tangguh.

Terkini

7 Buah Kering Bantu Menurunkan Risiko Lonjakan Gula Darah

Senin, 02 Februari 2026 | 13:49:27 WIB

Air Rebusan Herbal Ampuh Redakan Sakit Pinggang Alami

Senin, 02 Februari 2026 | 13:49:26 WIB

Tak Hanya Jepang, Ini 5 Surga Sakura Asia Menawan

Senin, 02 Februari 2026 | 13:49:23 WIB