JAKARTA - Pandangan mengenai industri sawit sebagai sektor strategis kembali ditegaskan melalui pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, yang menilai bahwa industri ini bukan hanya penggerak ekonomi, tetapi juga contoh nyata transformasi berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa arah pembangunan Indonesia saat ini selaras dengan Visi Indonesia Emas 2045 serta target Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat, sehingga sektor-sektor besar seperti sawit harus mampu berkontribusi untuk tujuan tersebut.
Dalam penjelasannya, Rachmat menyampaikan bahwa industri sawit kini menunjukkan peran penting dalam menciptakan lapangan kerja hijau, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat transisi menuju energi bersih.
Ia menekankan bahwa komitmen Indonesia dalam mengelola sumber daya alam telah mengacu pada prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.
Pemerintah berupaya menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas pengelolaan lingkungan agar setiap kemajuan yang dicapai tidak mengorbankan kelestarian alam maupun kesejahteraan generasi mendatang. Menurutnya, arah pembangunan harus menjaga keseimbangan tersebut agar transformasi yang terjadi benar-benar berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti nilai kearifan lokal Bali, Tri Hita Karana, yang menjadi inspirasi penting dalam menyelaraskan hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam.
Bagi Rachmat, pendekatan tersebut relevan untuk diterapkan dalam industri sawit global agar pengembangan yang dilakukan tidak hanya bertujuan pada produktivitas, tetapi juga memuat nilai etis, inklusif, serta memperhatikan aspek kemanusiaan.
Potensi Indonesia sebagai Produsen Sawit Utama Dunia
Rachmat menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia. Ia menyebut bahwa Indonesia mampu memenuhi sekitar 59 persen kebutuhan pasar global dengan volume produksi mencapai 47,5 juta ton.
Angka tersebut menunjukkan bahwa komoditas sawit merupakan salah satu pilar strategis dalam perekonomian nasional karena mendorong ekspor, menggerakkan industri turunan, serta meningkatkan kesejahteraan jutaan petani kecil.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan pentingnya memastikan petani kecil terus mendapatkan kesempatan berkembang.
Menurutnya, petani perlu didukung melalui proses modernisasi, akses pembiayaan yang lebih mudah, pemanfaatan teknologi yang lebih baik, serta peningkatan produktivitas agar mampu bersaing dalam rantai nilai global.
Ia mengatakan, “Kita harus membantu petani kecil untuk modernisasi, mendapatkan akses pembiayaan, mengadopsi teknologi yang lebih baik, dan meningkatkan produktivitas agar mereka dapat bersaing dan berkembang dalam rantai nilai global.”
Rachmat memaparkan bahwa pemerintah telah menjalankan sejumlah langkah untuk memperkuat industri sawit, mulai dari reformasi regulasi, program peremajaan perkebunan, penguatan sistem digital, hingga peningkatan standar sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Ia menilai bahwa langkah-langkah tersebut merupakan pondasi untuk memperkuat keberlanjutan industri sawit sekaligus memastikan bahwa komoditas tersebut tetap berdaya saing di pasar global.
Selain itu, Bappenas juga mendorong pengembangan industri hilir sawit yang lebih beragam. Hal ini meliputi pengembangan biofuel, sustainable aviation fuel (SAF), produk oleokimia, serta bahan-bahan ramah lingkungan bernilai tambah tinggi.
Menurutnya, semakin kuat industri hilir dikembangkan, semakin besar pula nilai ekonomi yang tercipta, termasuk lapangan kerja hijau yang lebih berkualitas dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh.
Sawit sebagai Solusi bagi Ketahanan Pangan dan Ekonomi Global
Dalam pandangannya, Rachmat menilai bahwa pengelolaan sawit yang bertanggung jawab akan menjadikan komoditas ini sebagai solusi komprehensif bagi ketahanan pangan global.
Ia melihat bahwa sawit tidak hanya bermanfaat bagi perekonomian Indonesia, tetapi juga memiliki pengaruh cukup besar dalam mendukung kebutuhan pangan dan energi dunia. Dengan demikian, pengelolaan yang transparan, berkelanjutan, dan inklusif menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan komoditas tersebut.
Dalam penegasannya, ia menyampaikan ajakan kolaboratif kepada seluruh pemangku kepentingan industri sawit. Menurutnya, kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, petani kecil, konsumen, serta berbagai pihak terkait sangat penting untuk memastikan industri sawit dapat memberikan manfaat luas.
Ia mengatakan, “Mari bekerja bersama demi manfaat bersama, dengan semangat no one left behind. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, petani kecil, konsumen, dan seluruh pemangku kepentingan agribisnis sawit, kita dapat menjadikan sawit sebagai kekuatan peradaban untuk kebaikan dunia.”
Rachmat melihat bahwa kolaborasi multipihak memiliki peran penting dalam memperkuat tata kelola sawit serta meningkatkan daya saing industri di masa depan.
Dengan komitmen bersama, ia optimis bahwa industri sawit akan terus berkembang secara berkelanjutan dan menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional serta kontribusi global.
Penguatan Kebijakan dan Arah Pembangunan Sawit Berkelanjutan
Melalui berbagai pernyataan dan langkah strategis yang disampaikan, arah pembangunan industri sawit Indonesia semakin mengarah pada integrasi keberlanjutan di seluruh rantai produksi. Pemerintah terus berupaya memperkuat kebijakan yang mendukung pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab.
Dengan memastikan regulasi berjalan efektif, pembinaan petani terus berlanjut, dan teknologi dimanfaatkan secara optimal, industri sawit diharapkan siap menghadapi tantangan pasar global.
Selain itu, pengembangan industri hilir yang terus diperluas memberi peluang besar bagi terciptanya nilai tambah ekonomi baru. Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen utama dunia, tetapi juga mendukung tercapainya visi pembangunan jangka panjang yang lebih inklusif dan ramah lingkungan.
Pemerintah berharap seluruh pemangku kepentingan dapat tetap menjaga komitmen bersama untuk memajukan industri sawit sebagai sektor yang berdaya saing dan berkontribusi positif bagi masa depan bangsa.